
Enam suku kata, dipahat pada batu, diputar dalam roda doa, dibisikkan di untaian tasbih di seluruh Himalaya — Om Mani Padme Hum. Inilah mantra yang paling banyak dilafalkan dalam Buddhisme Tibet, namun banyak yang mencintainya tanpa pernah diberi tahu apa maknanya. Jika Anda pernah mendengarnya di ruang kami dan bertanya-tanya, inilah tempat yang lembut untuk memulai.
Mantra siapa ini
Om Mani Padme Hum adalah mantra Chenrezig — Avalokiteshvara — Buddha welas asih. Beliaulah yang mendengar tangisan dunia dan berpaling kepadanya. Melafalkan mantra beliau bukanlah memohon budi kepada sosok yang jauh; melainkan memanggil sifat welas asih dari dalam hati Anda sendiri, tempat ia selalu berdiam, dan membiarkannya tumbuh sedikit lebih kuat.
Dalai Lama dipandang sebagai emanasi Chenrezig, dan orang Tibet dari segala lapisan membawa mantra ini bersama mereka sejak kecil hingga napas terakhir. Ia adalah suara kelembutan seluruh bangsa terhadap segala yang menderita.
Makna setiap suku kata
Kata-katanya sering diterjemahkan sebagai “permata di dalam teratai,” tetapi makna sejatinya tidak terletak pada satu frasa yang rapi — melainkan pada apa yang dikerjakan setiap suku kata di dalam diri kita. Para guru menjelaskannya demikian:
- Om — tubuh, ucapan, dan batin kita yang biasa, dipersembahkan untuk diubah menjadi tubuh, ucapan, dan batin suci seorang Buddha.
- Mani — permata: keinginan untuk menolong sesama, hati welas asih yang agung.
- Padme — teratai: kebijaksanaan, pandangan jernih tentang bagaimana segala sesuatu sesungguhnya.
- Hum — ketakterpisahan: welas asih dan kebijaksanaan menyatu sebagai satu, tak pernah terpisah.
Maka mantra ini adalah seluruh jalan yang terlipat dalam enam bunyi — pengingat bahwa hati yang baik saja tidak cukup tanpa pemahaman, dan pemahaman terasa dingin tanpa hati yang baik.
Cara melafalkannya
Tidak ada halangan untuk memulai, dan tak perlu melafalkannya dengan sempurna. Duduklah dengan nyaman, tenangkan napas Anda, dan ulangi mantra ini dengan lembut atau dalam hati — dengan untaian tasbih bila punya, atau cukup dengan jari-jari Anda. Yang penting bukanlah jumlahnya, melainkan niat di baliknya: pada setiap putaran, bawalah dalam ingatan mereka yang sedang menderita, dan doakan mereka terbebas dari derita.
Lafalkanlah dalam saat hening di rumah, di kereta yang penuh sesak, atau di sini di pusat kami. Anda selalu kami sambut untuk bergabung dalam doa mingguan setiap Sabtu pukul 14.00, dan untuk melihat puja serta ajaran yang akan datang di halaman Acara Mendatang kami.
Semoga setiap makhluk yang mendengar mantra ini, dan setiap makhluk yang mereka simpan dalam hati, terbebas dari penderitaan dan mencapai kedamaian yang langgeng.
Sera Jey Wisdom Center · Ruko Savoy Blok C1 No. 31 & 32, Jakarta Garden City · WhatsApp +62 813 2488 4241